SuatuketikamalaikatJibrildalamrupaseorangmanusiadatangkpdRasulullahShallallahu
‘AlaihiwaSallam¶shahabatutkmengajarkantentangpokok-pokokajaran agama,
yaitu Islam, Iman&Ihsan.
(HadisRiwayat: Muslim).
Hadits tersebutkemudiandikenaldgn HaditsJibril,
sebuahhaditsygdipandangolehparaulamamempunyaiposisiygsangatpenting,
karenamencakupsemuaamalbaiklahirmaupunbatinsertamenjadireferensiajaran Islam.
حَدَّثَنَامُسَدَّدٌقَالَحَدَّثَنَاإِسْمَاعِيلُبْنُإِبْرَاهِيمَأَخْبَرَنَاأَبُوحَيَّانَالتَّيْمِيُّعَنْأَبِيزُرْعَةَعَنْأَبِيهُرَيْرَةَقَالَ:
كَانَالنَّبِيُّصَلَّىاللَّهُعَلَيْهِوَسَلَّمَبَارِزًايَوْمًالِلنَّاسِفَأَتَاهُجِبْرِيلُفَقَالَ:
مَاالإِيمَانُقَالَالإِيمَانُأَنْتُؤْمِنَبِاللَّهِوَمَلائِكَتِهِوَكُتُبِهِوَبِلِقَائِهِوَرُسُلِهِوَتُؤْمِنَبِالْبَعْثِ،
قَالَ: مَاالإِسْلاَمُقَالَ:
الإِسْلاَمُأَنْتَعْبُدَاللَّهَوَلاَتُشْرِكَبِهِشَيْئًاوَتُقِيمَالصَّلاَةَوَتُؤَدِّيَالزَّكَاةَالْمَفْرُوضَةَوَتَصُومَرَمَضَانَ،
قَالَ: مَاالإِحْسَانُ، قَالَ:
أَنْتَعْبُدَاللَّهَكَأَنَّكَتَرَاهُفَإِنْلَمْتَكُنْتَرَاهُفَإِنَّهُيَرَاكَ،
قَالَ: مَتَىالسَّاعَةُ، قَالَ:
مَاالْمَسْئُولُعَنْهَابِأَعْلَمَمِنْالسَّائِلِوَسَأُخْبِرُكَعَنْأَشْرَاطِهَا:
إِذَاوَلَدَتْالأَمَةُرَبَّهَاوَإِذَاتَطَاوَلَرُعَاةُالإِبِلِالْبُهْمُفِيالْبُنْيَانِ،
فِيخَمْسٍلاَيَعْلَمُهُنَّإِلاَّاللَّهُثُمَّتَلاَالنَّبِيُّصَلَّىاللَّهُعَلَيْهِوَسَلَّمَإِنَّاللَّهَعِنْدَهُعِلْمُالسَّاعَةِالآيَةَثُمَّأَدْبَرَفَقَالَرُدُّوهُفَلَمْيَرَوْاشَيْئًافَقَالَهَذَاجِبْرِيلُجَاءَيُعَلِّمُالنَّاسَدِينَهُمْ
(أخرجهالبخارىفى : كتابالإيمان : 37 . بابسؤالجبريلالنبيص.م. عنالإيمانوالإسلام).
مسلم: عنالإيمان: 57. ابوداوود: سنة, 16. ترميذى: الإيمان, 4. ابنماجه: مقدمة. 9
.احمدبنحنبل: 1,27,51, 19,29.
Musaddadtelahmenceritakankpd
kami, iaberkatabahwaIsma’ilibn Ibrahim telahmenceritakankpd kami, Abu Hayyan
al-TaimiydariAbiZur’ahtelahmenyampaikankpd kami dari Abu Hurairahr.aberkata:
PadasesuatuhariketikaNabiShallallahu ‘alaihiwasallamsedangdudukbersamasahabat,
tiba-tibadatangseoranglaki-laki&bertanya, “apakahimanitu?”.
JawabNabiShallallahu ‘alaihiwasallam: “imanadlpercaya
Allah Subhanahuwata’ala, paramalaikat-Nya, &pertemuannyadgn Allah,
para Rasul-Nya&percayapdhariberbangkitdarikubur. ‘Lalulaki-lakiitubertanyalagi,
“apakah Islam itu?JawabNabiShallallahu ‘alaihiwasallam, “Islam ialahmenyembahkpd Allah
&tdkmenyekutukan-Nyadgnsesuatuapapun, mendirikan shalat, menunaikan zakat
ygdifardhukan&berpuasa di bulanRamadhan.”
Lalulaki-lakiitubertanyalagi: “apakahIhsanitu?” JawabNabiShallallahu
‘alaihiwasallam, “Ihsanialahbahwaengkaumenyembahkpd
Allah seakan-akanengkaumelihat-Nya, kalauengkautdkmampumelihat-Nya,
ketahuilahbahwa Allah melihatmu. “Lalulaki-lakiitubertanyalagi:
“apakahharikiamatitu? “NabiShallallahu ‘alaihiwasallammenjawab: “orang
ygditanyatdklbhmengetahuidaripadaygbertanya, tetapisayamemberitahukankepadamubeberapa syarat (tanda-tanda)
akantibanyaharikiamat, yaitujikabudaksahayatelahmelahirkanmajikannya,
&jikapenggembalaonta&ternaklainnyatelahberlomba-lombamembangungedung-gedungmegah.
Termasuk 5 perkaraygtdkdptdiketahuikecualioleh Allah,
selanjutnyaNabiShallallahu ‘alaihiwasallammembacaayat: “Sesungguhnya Allah
hanyapdsisi-Nyasajalahygmengetahuiharikiamat… (ayat).[1] Kemudian orang
itupergi. LaluNabiShallallahu ‘alaihiwasallambersabdakpdparasahabat:
“antarkanlah orang itu. Akan tetapiparasahabattdkmelihatsedikitpunbekas orang
itu.LaluNabiShallallahu ‘alaihiwasallambersabda: “ItuadlMalaikatJibrila.s.
ygdatangutkmengajarkan agama kpdmanusia.” (HadisRiwayat: Bukhari, Muslim, Abu
Dawud, at-Turmudzi, IbnuMajah& Ahmad bin Hambal).
Iman, islam, ihsan adalah tiga kata yang maknanya
saling berkaitan, sebagaimana yang diterangkan dalam hadits Rasulullah Saw.
“Diriwayatkan dari umar bin khatab, “Suatu hari, disaat
kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah Saw. Tiba-tiba muncullah seorang
laki-laki yang mengenakan pakaian serba putih, rambutnya hitam pekat, tidak
berjejak, dan tidak seorangpun diantara kami yang mengenalnya, sampai dia duduk
di depan Nabi Saw. dan menyandarkan kedua lututnya pada lutut Nabi Saw.seraya
meletakkan kedua telapak tangannya diatas paha beliau. Kemudian ia berkata,
Wahai Muhammad, ajarilah aku tentang islam,
Nabi bersabda, islam adalah hendaknya engkau bersaksi
bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul-Nya,
engkau mendirikan solat, mengelurkan zakat, berpuasa ramadhan, dan menunaikan
ziarah haji ke baitullah jika engkau mampu menempuh perjalanannya. Segera saja
laki-laki itu berkata, “Engkau benar wahai Muhammad.” . . . . . . . . . . . . .
Dia kembali berkata, Wahai Muhammad kabarilah aku tentang iman,
Muhammad bersabda, iman adalah hendaknya engkau beriman
kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitb-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari
kiamat, dan beriman pula kepada ketentuan (qadar) baik ataupun buruk ,”Engkau
benar Muhammad , Kemudian ia berkata lagi “jelaskan padaku tentang ihsan ,
Rasulullah bersabda” Hendaknya engkau menyembah Allah
seakan-akan melihat-Nya atau jika engkau tidak melihat-Nya, maka Allah-lah yang melihat engkau.
Begitulah kalau jika dilihat dari segi aspek lahirnya,
maka agama yang diajarkan jibril adalah islam, agama juga disebut iman jika
yang diamati adalah aspek batinnya. Kemudian agama baru disebut ihsan jika
aspek batin (iman) dan lahirnya (amal saleh) telah di penuhi secara utuh dan
sempurna.
1. IMAN
Pengertian iman
Secara
bahasa iman berarti membenarka (tashdiq), sementara menurut istilah ialah
“membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan
perbuatannya”. Sedang menurut istilah yang sesungguhnya ialah kepercayaan yang
meresap kedalam hati, dengan penuh keyakinan, tidak bercampur dengan syak dan
ragu, serta memberi pengaruh terhadap pandangan hidup, tingkah laku dan
perbuatan sehari-hari. Kata iman dalam Al-quran digunakan untuk arti yang
bermacam-macam.
Ar- Raghib al-Ashfahani (ahli kamus Al-quran) mengatakan,
iman didalam Al-quran terkadang digunakan untuk arti iman yang hanya sebatas
dibibir saja padahal dalam hati dan perbuatannya tidak beriman, terkadang
digunakan untuk arti iman yang hanya terbatas pada perbuatannya saja, sedang
hati dan ucapannya tidak beriman dan ketiga kata iman terkadang digunakan untuk
arti iman yang diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan di amalkan
dalam perbuatan sehari-hari.
Rukun
(pilar-pilar) iman dalam islam
Sesuai
dengan hadits Rasulullah saw, diatas sudah dijelas bahwasanya ada enam rukun
iman yang harus diyakini untk menjadi seorang islam yang sempurna dan menjadi
seorang hamba Allah yang ihsan nantinya, enam rukun iman tersebut nadalah:
i.
Beriman kepada Allah Swt
Yakni
beriman kepada rububiyyah Allah
Swt, maksudnya : Allah adalah Tuhan, Pencipta, Pemilik semesta, dan Pengatur
segala urusan, Beriman kepada uluhiyyah Allah
Swt, maksudnya: Allah sajalah tuhan yang berhak di sembah, dan semua sesembahan
selain-Nya adalah batil, iman kepada Nama-Nama dan Sifat-Sifat-Nya maksudnya:
bahwasanya Allah Swt, memiliki nama-nama yang mulia, dan sifat-sifat-Nya yang
sempurna serta agung sesuai yang ada dalam Al-quran dan Sunnah Rasul-Nya.
ii.
Beriman kepada malaikat
Malaikat
adalah hamba Allah yang mulia, mereka diciptakan oleh Allah untuk beribadah
kepada-Nya, serta tunduk dan patuh menta’ati-Nya, Allah telah membebankan
kepada mereka berbagai tugas, Diantaranya adalah : Jibril tugasnya menyampaikan
wahyu, Mikail mengurusi hujan dan tumbuh-tumbuhan, Israfil meniup sangsakala di
hari kiamat, Izrail (malaikat maut), Raqib , Atit,mencatat amal perbutan
manusia, Malik menjaga neraka, Ridwan menjaga surga, dan malaikat-malaikat yang
lain yang hanya Allah Swt yang dapat mengetahuinya.
iii.
Beriman kepada kitab-kitab
Allah
yang Maha Agung dan Mulia telah menurunkan kepada para Rasul-Nya kitab-kitab,
mengandung petunjuk dan kebaikan. Diantaranya: kitab taurat diturunkan kepada
Nabi Musa, Injil diturunkan kepada Nabi Isa, Zabur diturunkan kepada Nabi Daud,
Shuhuf Nabi Ibrahim dan Nabi Musa, Al-quran diturunkan Allah Swt, kepada Nabi
Muhammad Saw, Dengannya Allah telahmenasakh (menghapus)
semua kitab sebelumnya.
Dan Allah telah menjamin untuk menjaga dan memeliharanya,
karena ia akan menjadi hujjah atas semua makhluk, sampai hari kiamat.
iv.
Beriman kepada para rasul
Allah
telah mengutus kepada maakhluk-Nya para rasul, rasul pertama adalah Nuh dan
yang terakhir adalah Muhammad Saw, dan semua itu adalah manusia biasa, tidak
memiliki sedikitpun sifat ketuhanan, mereka adalah hamba-hamba Allah yang
dimuliakan dengan kerasulan. Dan Allah telah mengakhiri semua syari’at dengan
syari’at yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw,yang diutus untuk seluruh
manusia , maka tidak ada nabi sesudahnya.
v.
Beriman kepada hari akhirat
Yaitu
hari kiamat, tidak ada hari lagi setelahnya, ketika Allah membangkitkan manusia
dalam keadaan hidup untuk kekal ditempat yang penuh kenikmatan atau ditempat
siksaan yang amat pedih. Beriman kepada hari akhir meliputi beriman kepada
semua yang akan terjadi setelah itu, seperti kebangkitan dan hisab, kemudian
surga atau neraka.
vi.
Beriman kepada (taqdir) ketentuan Allah
Taqdir artinya: beriman bahwasanya Allah telah
mentaqdirkan semua yang ada dan menciptakan seluruh mahluk sesuai dengan
ilmu-Nya yang terdahalu, dan menurut kebijaksanaan-Nya, Maka segala sesuatu
telah diketahui oleh Allah, serta telah pula tertulis disisi-Nya, dan Dialah
yang telah menghendaki dan menciptakannya.
2.
ISLAM
Pengertian islam
Kata islam merupakan
pernyataan kata nama yang berasal dari bahasa arab aslama, yaitu bermaksud “untuk menerima, menyerah, atau
tunduk” Dengan demikian islam berarti penerimaan dari dan penundukan kepada Tuhan, dan penganutnya
harus menunjukkan ini dengan menyembah-Nya, menuruti perintah-Nya dan
menghindari politheisme. Perkataan ini memberikan beberapa maksud dari
Al-qur,an. Dalam beberapa ayat, kualitas islam sebagai kepercayaan ditegaskan:
“ Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk,
niscaya dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama islam)” . Ayat lain
menghubungkan islam dan din(lazimnya
diterjemahkan sebagai “Agama”) .” Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu
agamamu, dan telah Ku- cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah
Ku-ridhai islam jadi agama bagimu”.
Secara etimologis kata islam diturunkan dari akar kata
yang sama dengan kata salam yang berarti “Damai”. Kata muslim (sebutan bagi
pemeluk agama islam) juga berhubungan dengan kata islam, kata tersebut berarti
”Orang yang berserah diri kepada Allah”.
Islam memberikan banyak amalan keagamaan. Para penganut,
umumnya di galakan untuk memegang lima rukun islam, yaitu lima pilar yang
menyatukan muslim sebagai sebuah komunitas. Islam adalah syari’at Allah
terakhir yang diturunkan-Nya kepada penutup para nabi dan
Rasul-Nya, Muhammad bin Abullah Saw, ia merupakan satu-satunya agama
yang benar. Allah tidak menerima agama dari siapapun selainnya. Dia telah
menjadikannya sebagai agama yang mudah, tidak ada kesulitan dan kesusahan
didalamnya, Allah tidak mewajibkan dan tidak pula membebankan kepada para
pemeluknya apa-apa yang mereka tidak sanggup melakukunnya. Islam adalah agama
yang dasarnya tauhid, syi’arnya kejujuran, parosnya keadilan, tiangnya kebeenaran,
ruhnya kasih sayang. Islam merupakan agama agung yang mengarahkan manusia kepada
seluruh hal yang bermanfaat, serta melarang dari segala hal yang membahayakan
bagi agama dan kehidupan mereka didunia .
Rukun (pilar-pilar) islam
Islam
di bangun diatas lima rkun. Seseorang tidak akan menjadi muslim yang sebenarnya
hingga dia mengimani dan melaksanakannya yaitu:
a. Rukun pertama:
Syahadat (bersaksi) bahwa,
tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan bahwasanya Muhammad
Rasulullah. Syahadat ini merupakan kunci islam dan pondasi bangunannya. Makna
syahadat la ilaha illallah ialah
: tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah saja,dilah ilahi yang hak,
sedangkan ilahi selainnya adalah batil dan ilahi itu artinya sesuatu yang
disembah. Dan makna syahadat: bahwasanya Muhammad itu adalah Rasulullah ialah:
membenarkan semua apa yang diberitakannya, dan mentaati semua perintahnya srta
menjauhi semua yang dilarang dan dicegahnya.
b. Rukun kedua:
ShalatAllah telah
mengsyari’atkan lima shalat setiap hari sebagai hubungana antara seorang muslim
dengan Tuhanya. Didalamnya dia bermunajat dan berdo’a kepada-Nya,disamping agar
menjadi pencegah bagi muslim dari perbuatan keji dan mungkar. Dan Alah telah
menyiapkan bagi yang menunaikanya kebaikan dalam agama dan kemantapan iman
serta ganjaran,baik cepat maupun lambat.Maka dengan demikian seorang
hamba akan mendapatkan ketenangan jiwa dan kenyamanan raga yang akan membuatnya
bahagia di dunia dan akhirat.
c.
Rukun ketiga:
Zakat yaitu sedekah yang dibayyar oleh orang yang
memiliki harta sampai nishab(kadar tertenrtu) setiap tahun,kepada yang
berhak menerimanya seperti kaum fakir dan lainya,diantara yang berhak menerima
zakat.Zakat itu tidak di wjibkan atas orang fakir yang tidak memiliki
nishab,tapi hanya di wajibkan atas kaum kaya untuk menyempurnakan agama dan
islam mereka,meningkatkan kondisi dan akhlak mereka,menolak segala balak dari
mereka dan harta mereka,mensuccikan mereka dari dosa,disamping sebagai bantuan
bagi orang-orang yang membutuhkan dan fakir diantara mereka,serta untuk
memenuhi kebutuhan keseharian mereka,sementara zakat hanyalah merupakan bagian
kecil sekali dari jumlah harta dan rizki yang diberikan Allah kepada mereka.
d.
Rukun keempat:
Puasa yaitu selama satu bulan saja setiap tahun,pada bulan
ramadhan yang mulia,yakni bulan kesembilan dari bulan-bulan hijriyah.Kaum
muslimin secara keseluruhan serempak meninggalkan kebutuhan-kebutuhan pokok
mereka,makan,minum,dan jimak di siang hari mulai terbit fajar sampai matahari
terbenam.Dan semua itu akan di ganti oleh Allah bagi mereka berkat karunia dan
kemurahan-Nya,dengan penyempurnaan agama dan iman mereka,serta peningkatan
kesempurnaan diri,dan banyak lagi ganjaran dan kebaikan lainya,baik di dunia
maupun di akhirat yang telah di janjikan Allah bagi orang-orang yang berpuasa.
e.
Rukun kelima:
Haji yaiu menuju masjidil haram untuk melakukan ibadah
tertentu. Allah mewajibkan atas orang yang mampu sekali seumur hidup,Pada waktu
itu kaum muslimiin dari segala penjuru berkumpul di tempat yang paling mulia
dimuka bumi ini,menyembah tuhan yang satu,memakai pakaian yang sama,tidak ada
perbedaan antara pemimpin dan yang dipimpin,antara si kaya dan si fakir dan
antara yang berkulit putih dan berkulit hitam.Mereka semua melaksanakan
bentuk-bentuk ibadah tertentu,yang terpenting diantaranya adalah: wukuf di
padang arafah,tawaf di ka’bah,kiblatnya kaum muslimin,dan sa’i antara bukit
shafa dan marwah.
Ihsan
adalah puncak ibadah dan akhlak yang senantiasa menjadi target seluruh hamba
Allah swt. Sebab ihsan menjadikan kita sosok yang mendapatkan kemuliaan
darin-Nya. Sebaliknya, seorang hamba yang tidak mampu mencapai target ini akan
kehilangan kesempatan yang sangat mahal untuk menduduki posisi terhormat dimata
Allah swt. Rasulullah Saw. Pun sangat menaruh perhatian akan hal ini, sehingga
seluruh ajaran-ajarannya mengarah kepada satu hal, yaitu mencapai ibadah yang
sempurna dan akhlak yang mulia. Oleh karenanya, seorang muslim hendaknya tidak
memandang ihsan itu hanya sebatas akhlak yang utama saja, melainkan harus
dipandang sebagai bagian dari aqidah dan bagian terbesar dari keislamannya
karena, islam di bangun atas tiga landasan utama, yaitu iman, islam, dan ihsan,
seperti yang telah diterangkan oleh Rasulullah Saw.dalam haditsnya yang sahih .
Hadits ini menceritakan saat Rasulullah Saw. Menjawab pertanyaan malikat jibril
– yang menyamar sebagai seorang manusia – mengenai islam, iman, dan ihsan.
Setelah jibril pergi, Rasulullah Saw. Bersabda kepada sahabatnya, “ inilah
jibril yang datang mengajarkan kepada kalian urusan agama kalian.” Beliau
menyebut ketiga hal diatas sebagai agama, dan bahkan Allah Swt. Memerintahkan
untuk berbuat ihsan pada banyak tempat dalam Al-qur’an.
.” Dan berbuat baiklah kalian, karena sesungguhnya Allah
mencintai orang-orang yang berbuat baik. “ (Qs Al-baqarah:195)
“ Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk berbuat adil
dan kebaikan . . . .”(Qs. An-nahl : 90 )
Pengertan ihsan
Ihsan
berasal dari kata hasana yuhsinu, yang artinya adalah berbuat baik, sedangkan
bentuk masdarnya adalah ihsanan, yang artinya kebaikan. Allah Swt. Berfirman
dalam Al-qur’an mengenai hal ini.
” Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik
bagi dirimu sendiri . . .”(Al-isra’:7)
“Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) seperti halnya Allah berbuat baik terhadapmu
. . “(Qs AL-Qashash: 77).
Ibnu katsir mengomentari ayat diatas dengan mengatakan
bahwa kebaikan yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah kebaikan kepada seluruh
mahluk Allah Swt.
Landasan syar’I ihsan
a)
Pertama Al- qur’anul
karim
Dalam Al-qur’an, terdapat 166 ayat yang berbicara tentang
ihsan dan implementasinya. Dari sini kita dapat menarik satu makna, betapa
mulia dan agungnya perilaku dan sifat ini, hingga mendapat porsi yang sangat
istimewa dalam Al-qur’an. Berikut ini adalah beberapa ayat yang menjadi
landasan akan hal ini.
“ Dan berbuat baiklah kalian karena sesungguhnyaAllah
mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (Qs. Al- baqarah: 195)
“Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk berbuat adil dan
kebaikan.” (Qs.An-nahl:90)
“. . . . .serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada
manusia. . . .”(Qs. Al-baqarah:83)
“Dan berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak,
kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat maupun yang
jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan para hamba sahayamu. . . . “ (Qs.
An-nisa’: 36)
b)
Kedua, As-sunnah
Rasulullah Saw. Pun sangat memberi perhatian terhadap
masalah ihsan ini. Sebab,ini merupakan puncak harapan, perjuangan seorang
hamba. Bahkan, diantara hadits-hadits mengenai ihsan tersebut, ada beberapa
yang menjadi landasan utama dalam memahami agama ini. Rasulullah Saw.
menerangkan mengenai ihsan –Ketika ia menjawab pertanyaan malaikat jibril
tentang ihsan, dimana jawaban tersebut dibenarkan oleh jibril, dengan
mengatakan ,” Engkua menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan
apabila engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”
(HR. Muslim).
Aspek pokok dalam ihsan
Ihsan
meliputi tiga aspek yang fundamental ketiga aspek tersebut ibadah, muamalah,
dan ahklak.
Ibadah
Kita berkewajiban ihsan
dalam beribadah, yaitu dengan menjalankan semua jenis ibadah, seperti solat,
puasa, haji dan sebagainya dengan cara yang benar. Yaitu dengan
menyempurnakan syarat, rukun, sunnah, dan adab-adabnya.
Hal ini tidak akan mungkin dapat ditunaikan oleh seorang hamba, kecuali jika
saat pelaksnaan ibadah-ibadah tersebut ia penuhi dengan cita rasa yang sangat
kuat (menikmatinya), juga dengan kesadaran penuh bahwa Allah selalu memantaunya
hingga ia merasa bahwa ia sedang dilihat dan diperhatikan oleh Allah. Minimal
seorang hamba harus merasa bahwa Allah selalu memantaunya, karena dengan inilah
ia dapat menunaikan ibadah-ibadah tersebut dengan baik dan sempurna, sehingga
hasil dari ibadah tersebut akan seperti yang diharapkan.inilah maksud dari perkataan
Rasulullah Saw. yang berbunyi,
“Hendaklah kamu menyembah Allah seakan-akan kamu
melihat-Nya, dan jika engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia
melihatmu.”
Kini jelaslah bagi kita bahwa sesungguhnya arti dari
ibadah itu sendiri sangatlah luas. Maka selain dari jenis ibadah itu tadi, yang
tidak kalah pentingnya adalah juga seperti ibadah lainnya seperti jihad,
menghormati sesame mukmin, mendidik anak, membahagiakan istri, dan menjalankan
yang mubah semata-mata demi mencari dan mendapatkan Ridho Allah Swt. dan masih
banyak lagi. Rasulullah menghendaki umatnya dalam keadan seperti itu, yaitu
senantiasa sadar jika ingin ingin mewujudkan ihsan dalam setiap ibadahnya.
Tingkat ibadah dan
derajatnya
Berdasarkan nash-nash dalam Al-qur’an dan sunnah, maka
ibadah mempunyai tiga tingkatan, yang pada setiap tingkatan derajatnya seorang
hamba tidak akan dapat mengukurnya. Karena itulah kita berlomba-lomba untuk
meraihnya, pada setip derajat ada tingkatan tersendiri dalam surga. Yang tertinggi
adalah derajat muhsinin, Dan ia akan menempati jannatul firdaus, derajat
tertinggi dalam surga. Kelak penghuni surgs tingkat bawah akan memandangi
penghuni surgatingkat
atas, laksana penduduk bumi memandangi bintang-bintang di langit yang
menandakan betapa jauhnya jarak antara mereka.
Adapun tiga tingkatan tersebut adalah sebagai berikut:
Ø Tingkat At-taqwa, yaitu tingkatan paling bawah dengan
derajad yang berbeda-beda.
Ø Tingkat Al-bir, yaitu tingkat menengah dengan derajat
yang berbeda-beda.
Ø Tingkat Al-ihsan, yaitu tingkat paling atas dengan
derajat yang berbeda-beda.
1)
Tingkat taqwa
Tingkat
taqwa adalah tingkatan dimana seluruh derajatnya dihuni oleh mereka yang masuk
kategori Al-muttaqin, sesuai dengan derajad ketaqwan masing-masing.
Taqwa akan menjadi sempurna dengan menjalankan semua
perintah Allah dan menjauhi serta meninggalkan segala apa yang dilarangNya, hal
ini berarti meninggalkan salah satu perintah Allah saja dapat mengakibatkan
sangsi, dan melakukan salah satu laranganNya saja adalah dosa. Dengan demikian
puncak taqwa adalah menjalankan semua perintah Allah serta menjauhi segala
laranganNya.
Namun ada satu hal yang harus dipahami dengan benar,
yaitu bahwa Allah Swt. Maha mengetahui mengetahui keadaan hamba-hambaNya yang
memiliki berbagai kelemahan, yang dengan kelemahannya itu seorang hamba
melakukan dosa. Oleh karena itu Allah membuat satu cara penghapusan dosa, yaitu
dengan cara bertobat dan pengampunan. Melalui hal tersebut, Allah akan
mengampuni hambaNya yang berdosa karena kelalaiannya dari menunaikan hak-hak
taqwa. Sementara itu, ketika seorang hamba naik peringkat puncak taqwa, boleh
jadi ia akan naik peringkatnya pada peringkat bir atau ihsan. Peringkat ini
disebut martabat taqwa, karena amalan-amalan yang ada pada derajat ini
membebaskannya dari siksaan atas kesalahan yang dilakukannya. Adapun derajat
yang paling rendah dari peringkat ini adalah derajat dimana
seseorang menjaga dirinya dari kekalnya dalam neraka, yaitu dengan
iman yang benar dan diterima oleh Allah Swt.
2)
Tingkat Al-bir
Tingkat ini akan dihuni
oleh mereka yang masuk kategoi Al-abror, hal ini sesuai dengan amalan-amalan
kebaikan yang mereka lakukan dari ibadah-ibadah sunnah serta segala sesuatu
yang dicintai dan diridhai oleh Allah Swt. hal ini dilakukan setelah mereka
melakukan hal yang wajib, yakni yang ada pada peringkat At-taqwa.
Tingkat ini disebut
derajat Al-bir (kebaikan), karena derajat ini merupakan perluasan pada hal-hal
yang sifatnya sunnah, sesuai sifatnya semata-mata untuk mendekatkan diri kepada
Allah dan merupakan tambahan dari batasan-batasan yang wajib serta yang di
haramkanNya. Amalan-amalan ini tidak diwajibkan oleh Allah kepada hambaNya,
tetapi perintah itu bersifat anjuran, sekaligus terdapat janji pahala
didalamnya.
Akan tetapi mereka yang melakukan amalan tambahan ini
tidak akan masuk kedalam tingkatan Al-bir, kecuali mereka telah melaksanakan
peringkat yang pertama, yaitu peringkat taqwa. Karena melaksanakan hal yang
pertama menjadi syarat mutlak untuk naik keperingkat yang selanjutnya.
Dengan demikian,barang siapa yang mengklaim dirinya telah
melakukan kebaikan sedang ia tidak mengimani unsure-unsur kaidaah iman dalam
ihsan, serta tidak terhindar dari siksaan neraka , maka ia tidak dapat masuk
kedalam peringkat ini. (Al-bir). Allah Swt. telah berfirman,
“Bukanlah kebaikan dengan memasuki rumah-rumah dari
belakangnya, akan tetapi kebaikan itu adalah taqwa, dan datangilah rumah-rumah
itu dari pintu-pintunya dan bertaqwalah kepada Allah agar kalian beruntung.”
(Qs. Al-baqarah: 189).
“ya tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar seruan orang
yang menyeru kepada iman, yaitu berimanlah kamu kepada tuhanmu, maka kamipun
beriman. Ya tuhan kami ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari
kami kesalahan-kesalahan kami dan wafatkanlah kami bersama orang-orang yang
banyak berbuat baik.” (Al-imran: 193) .
3)
Tingkat ihsan
Tingkatan
ini akan dicapai oleh mereka yang masuk dalam kategori Muhsinun, mereka adalah
orang yang telah melewati tingkat pertama dan kedua (peringkat At-taqwa dan
Al-bir).
Ketika kita mencermati pengertian ihsan dengan sempurna,
maka kita akan mendapatkan kesimpulan bahwa ihsan memiliki dua sisi yaitu :
Pertama, ihsan adalah kesempurnaan dalam beramal sambil menjaga
keiklasan dan jujur dalam beramal.
Kedua, ihsaan adalah sensntiasa memaksimalkan amalan-amalan sunnah
yang dapat mendekat diri kepada Allah Swt. selama hal itu adalah sesuatu yang
diridhaiNya dan dianjurkan untuk melaksanakannya.






0 komentar:
Posting Komentar