KETERPADUAN
PERKEMBANGAN MOTIVASI DAN SIKAP SOSIAL
Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Pendidikan Seumur Hidup (PSH)
Dosen Pengampu : Dr.Khomsun Nurhalim, M.pd
Disusun
Oleh :
1. Venti Ervina (1201414006)
2. Irvan Ariviyanto(1201414020)
3. Ita Nur Layyinatush Shifa (1201414074)
4. Alif Fatansyah (1201414088)
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDY PENDIDIKAN LUAR
SEKOLAH
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG (UNNES)
2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan atas ke hadirat
Allah SWT, atas limpahan rahmat dan hidayahnya penulis dapat menyelesaikan
makalah tentang “Keterpaduan Perkembangan Motivasi dan Sikap Sosial”. Makalah
ini disusun sebagai tugas mata kuliah Pendidikan Seumur Hidup.
Kami
mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga
makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini masih jauh dari
sempurna, oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami
harapkan demi sempurnanya makalah ini. Kami menyadari makalah ini masih
banyak kekurangan karena keterbatasan pengetahuan kami.
Semoga
makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan bermanfaat untuk
pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.
Semarang, 2 Oktober
2014
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL................................................................................................. 1
KATA PENGANTAR............................................................................................... 2
DAFTAR
ISI.............................................................................................................. 3
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................... 4
A. Latar Belakang............................................................................................... 4
B. Rumusan Masalah.......................................................................................... 4
C. Tujuan............................................................................................................ 4
BAB II PEMBAHASAN........................................................................................... 5
A. Konsep-Konsep Perkembangan
Sosioafektif................................................. 6
B. Perkembangan Sepanjang Tahap-Tahap
Kehidupan .................................... 6
C. Faktor-Faktor Perkembangan
Sosioafektif.................................................... 6
BAB III PENUTUP................................................................................................... 11
A. Kesimpulan ................................................................................................... 11
B. Saran.............................................................................................................. 11
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................ 12
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Permasalahan
manusia adalah permasalahn yang sangat aktual untuk dibahas, begitu juga
permasalahn psikologi manusia, mulai dari perkembangan manusia, pertumbuhan
manusia serta hal-hal lain yang bersifat psikologis sejak dulu tak
henti-hentinya para pemikir dan ahli psikologi mencoba untuk membahas hal-hal
tersebut, kondisi itu pula yang mendorong manusia untuk merumuskan
konsep-konsep psikologi yang berkembang menjadi ilmu psikologi.
Secara
teoritis psikologi perkembangan ditelaah oleh banyak ahli psikologi, sehingga
melahirkan berbagai kerangka rumusan tentang psikologi perkembangan.
Kemungkinan untuk melihat daerah motivasi yang kurang optimal dan daerah-daerah
motivasi diatas optimal. Dalam situasi dimana dalam tingkat adanya motivasi dan
afeksi dibawah optimal, peningkatan motivasi akan memajukan belajar, sebaliknya
dimana tingkat adanya motivasi dan afeksi diatas optimal, peningkatan motivasi
menghambat proses belajar.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
menurut para ahli tentang Konsep-Konsep Perkembangan Sosioafektif?
2.
Bagaimana
proses Perkembangan Sepanjang Tahap-Tahap Kehidupan ?
3.
Apa
faktor yang mempengaruhi Perkembangan Sosioafektif ?
4.
Bagaimana
sistem Persekolahan dan Perkembangan Sosioafektif ?
C.
Tujuan
1.
Untuk
mengetahui bagaimana pendapat para ahli tenteng Konsep-Konsep Perkembangan
Sosioafektif.
2.
Untuk
mengetahui dan memahami bagaiman proses Perkembangan Sepanjang Tahap-Tahap
Kehidupan.
3.
Untuk
mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi Perkembangan Sosioafektif.
4.
Untuk
mengetahui bagaimana sistem Persekolahan dan Perkembangan Sosioafektif.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Konsep-Konsep Perkembangan
Sosioafektif
1. Menurut Buhler bahwa karakteristik
usia tua dipandang lebih banyak positifnya, kalau sekarang belum tentu
tergantung dari karakter masing-masing terhadap kuat tidaknya perkmbangan
sosioaffektif mempengaruhi pribadi tersebut.
2. Dalam tahap perkembangan menurut
Havinghurst usia 6-12 tahun sudah tidak kanak-kanak lagi, karena banyak
dijumpai dalam usia tersebut ada yang pacaran bahkan sampai sudah hamil dan
sebagainya.
3. Menurut Houle nasa dewasa berisi
eman tahap yaitu permulaan masa dewasa, masa dewasa muda, setengah baya muda,
setengah baya tua, usia tua dan pikun.
Konsep-konsep perkembangan
sosioaffektif ini dipengaruhi motivasi dan affektif memodifikasi dan
dimodifikasi pribadi orang itu sendiri tergantung mau atau tidak. karena kalau
orang tidak mau menerima pendapat dari orang lain , bagaimana orang itu akan
berkembang.
B. Perkembangan Sepanjang
Tahap-Tahap Kehidupan
1. Peranan soaial masa pertengahan
asdolescen peranan orang tua sosioaffektif sangat besar dampaknya.
2. Menurut Kuhlerpengapdian diri umpamanya reproduksi seks dan cara lainnya
agar dirinyatidak mati, namun menurut saya manusia mati itu sudah bdirencanakan
Allah.
3. Orang-orang yang berumur 50 tahun
atau lebih harus bertahan sebagai pngangguran, namun kenyataannya sekarang
tidak begitu.
C. Faktor-Faktor Perkembangan
Sosioaffektif
1. Seorang anak belum tentu menyerupai
orang tuanya, misal seorang anak sukses tapi orang tuanya tidak sukses, dan
sebaliknya.
2. Peranaan keluarga dalam memfungsikan
sosioaffekif, sikap terhadap sekolah, belajar dan bermasyarakat tentang
presentasi sekolah yang berbeda-beda.
3. Pekerjaan adalah aspek utama
kehidupan ekonomi yang berinteraksi dengan sekolah atau belajar seumur hidup,
tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan masing-masing.
4. Dari permulaan, anak-anak dilatih
cara menjadi anak yang berbakti kepada orang tuanya dan menjadi anak yang bisa
membanggakan kedua orang tuanya.
D. Persekolahan Dan Perkembangan
Sosioaffektif
1. Sitem keluarga perkembangan
sosioaffektif melattih kepribadian seorang anak menjadi baik, sedangkan sekolah
yaitu mengatasi atau mencari jalan keluar untuk mengatasi masalah.
2. Belajar terus menerus akan
menghambat menerima stereotype yang menyatakan belajar formal terbatas hanya
pada tahun-tahun sekolah.
Psikologi perkembangan dijadikan
dasar serta cara untuk menciptakan keberhasilan serta keunggulan dalam proses
pendidikan.
Dalam situasi dimana tingkat adanya
motivasi dan atau afeksi di bawah optimal, peningkatan motivasi akan memajukan
belajar, sebaliknya dimana tingkat adanya motivasi dan atau afeksi di atas
optimal, peningkatan motivasi menghambat belajar. Tingkat afeksi memodifikasi
suatu proses penyesuaian dan pengamatan, serta perubahan persepsi dalam
faktor-faktor motivasi. Dengan demikian untuk mengkonsepsikan seorang individu
sebagai jaringan timbal balik yang terorganisasi fungsi-fungsi kejiwaan yang
beroperasi satu sama lainnya dalam suatu cara yang sangat komplek.
Beberapa alasan pentingnya dimensi
pembelajaran afektif. Pertama, mengetahui apa jenis pembelajaran terdiri dari
domain afektif membantu kita untuk memahami apa yang domain afektif ini dan apa
yang bukan. Kedua, ia menyediakan menu yang membantu pendidik untuk memutuskan
apa yang penting untuk mengajar. Dan ketiga, berbagai jenis belajar afektif
mungkin memerlukan berbagai metode intruksi untuk mendorong pembangunan, dan ini
adalah fokus utama dari teori pembelajaran.
Internalisasi adalah konsep
fundamental dalam memahami taknosomi karena, dari perspektif teoritis, semakin
nilai atau sikap di internalisasikan, semakin besar kemungkinan bahwa nilai
atau sikap yang mempengaruhi perilaku. Taksonomi ini terdiri dari lima kategori
utama yang mencerminkan konsep internalisasi yaitu menerima, merespon, menilai,
organisasi, dan karakterisasi oleh nilai atau kompleks nilai. Taksonomi ini di
kembangkan sebagian untuk membantu guru menulis tujuan afektif untuk
masing-masing dari lima kategori utama, dan untuk membantu mereka merancang
langkah-langkah afektif. Tujuan-tujuan ini bisa di tulis untuk mencerminkan
berbagai tingkat internalisasi, dan mereka bisa di bedakan dari objektif kognitif
karena mereka menekankan perasaan, emosi, atau tingkat penerimaan atau
penolakan terhadap fenomena tertentu.
Teori perkembangan Robert Havighurts membagi perkembangan
menjadi tiga fase yaitu:
· Fase Bayi dan Awal anak-anak (0-6
tahun), anak-anak mulai bercakap, mulai beinteraksi dengan orang lain, belajar
bertolak ansur dan bertimbang rasa, sedia mendengar pandangan orang lain dan
boleh membedakan betul dan salah
· Fase Pertengahan anak-anak (6-12
tahun) menguasai beberapa kemahiran dalam permainan, kemahiran 3M, mula
berkawan dengan orang lain dan mampu memahami konsep hidup serta moral
· Fase Awal Remaja dan Remaja (12-18
tahun), bentuk badan mulai berubah,
minat bergaul dengan lawan jenis, ingin kebebasan dan konsep baik dan buruk
semakin mantap.
Tugas perkembangan adalah suatu
tugas yang muncul pada periode tertentu dari kehidupan individu, jika tugas
tersebut dituntaskan maka akan membawa kebahagiaan dan kesuksesan dalam
menuntaskan tugas berikutnya. Sebagian perubahan-perubahan yang terjadi
merupakan bagian dari pertumbuhan dan perkembangannya
Seifert dan Haffnung membedakan tiga tipe (domain)
perkembangan yaitu:
§ Perkembangan
fisik mencakup pertumbuhan biologis. Misalnya, pertumbuhan otak, otot, tulang
serta penuaan dengan berkurangnya ketajaman pandangan mata dan berkurangnya
otot-otot.
§ Perkembangan
kognitif mencakup perubahan-perubahan dalam berpikir, kemampuan bahasa yang
terjadi melalui proses belajar.
§ Perkembangan
psikososial berkaitan dengan perubahan-perubahan emosi dan identitas pribadi
individu, yaitu bagaimana seseorang berhubungan dengan keluarga, teman-teman
dan guru-gurunya.
Menurut Santrok semua aspek dalam
perkembangan di pengaruhi oleh faktor genetik yaitu kecerdasan dan Temperamen.
Temperamen adalah gaya perilaku atau karakteristik dalam merespons lingkngan.
Menurut Thomas & Chess (1991) ada tiga dasar temperamen yaitu yang mudah,
yang sulit dan yang lambat untuk di bandingkan.
Erik H. Erikson mengemukakan teori
perkembangan afektif bahwa perkembangan manusia adalah sintesis dari
tugas-tugas perkembangan tugas-tugas sosial.
Fase perkembangan afektif menurut Erikon:
1. Kepercayaan dasar
2. Otonomi
3. Inisiatif
4. Produktivitas
5. Identitas
6. Keakraban
7. Generasi berikut
8. Integritas
Jean Piaget membagi perkembangan kognitif atas empat fase:
1) Sensor motorik
2) Pra operasional
3) Operasional konkret
4) Operasional formal
Carol Gestwicki mengemukakan bahwa:
a)
Dalam
perkembangan terdapat urutan yang di ramalkan
b)
Perkembangan
pada suatu tahap merupakan landasan bagi perkembangan berikutnya
c)
Dalam
perkembangan terdapat waktu-waktu yang optimal
d)
Perkembngan
itu maju berkelanjutan dan semua aspek-aspeknya merupakan kesatuan yang saling
mempengaruhi
e)
Setiap
individu berkembang sesuai dengan waktunya masing-masing
f)
Perkembangan
berlangsung dari yang sederhana kepada yang kompleks, dari yang umum kepada
yang khusus
Terdapat 10 prinsip dasar pertumbuhan menurut Sutterly
Donnely, yaitu:
1. Pertumbuhan adalah kompleks, semua
aspeknya berhubungan sangat erat
2. Pertumbuhan mencakup hal-hal
kuantitatif dan kualitatif
3. Pertumbuhan adalah proses yang
berkesinambungan dan terjadi secara teratur
4. Paada pertumbuhan dan perkembangan
terdapat keteraturan arah
5. Tempo pertumbuhan tiap anak tidak
sama
6. Aspek-aspek berbeda dari
pertumbuhan, berkembang pada waktu dan kecepatan berbeda
7. Kecepatan dan pola pertumbuhan dapat
di modifikasikan oleh faktor intrinsik dan ekstrinsik
8. Pada pertumbuhan dan perkembangan
terdapat masa-masa krisis
9. Pada suatu organisme akan
kecenderungan untuk mencapai potensi perkembangan yang maksimum
10. Setiap individu tumbuh dengan rasa
percaya diri yang unik
Beberapa ide umum tentang pengalaman belajar:
1) Keterlibatan dalam pengalaman
belajar mempunyai pengaruh penting terhadap pembelajaran
2) Suasana bebas dan penuh kepercayaan
akan menunjang kehendak peserta didik untuk mau melaksanakan tugas sekalipun
mengandung risiko
3) Strategi yang mendalam dapat di
pergunakan namun pengaruh penting terhadap beberapa aspek seperti usia,
kematangan, kepercayaan dan penghargaan terhadap orang lain
4) Pada umumnya pembelajaran berpengaruh
kepada hal-hal khusus seperti menghargai orang lain dan bersikap hati-hati
kepada yang baru di kenal
5) Terdapat banyak pengaruh yang dapat
di pelajar melalui mpdel (orang tua dan gurunya) sedang peserta didik berusaha
menirunya
Gaya belajar adalah kunci untuk
mengembangkan kinerja dalam pekerjaan, sekolah dalam situasi-situasi antara
pribadi. Pada awal pengalaman belajar, langkah pertama yang perlu dilakukan
ialah mengenali modalitas kita masing-masing yaitu bagaimana menerap informasi
dengan mudah. Apakah modalitas kita visual, yaitu belajar melalui apa yang
dilihat, apakah auditorial yaitu belajar melalui apa yang didengar, apakah
kinestetik, yaitu melalui gerak dan sentuhan.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Konsepsi
pengajaran tradisional yang mementingkan perkembangan intelektual kemudian
berubah. Sekolah yang modern lebih memperhatiakan seluruh pribadi anak itu,
baik mengenai segi emosi, sosial, jasmani maupun segi intelektualnya. Sekolah
berusaha dengan sengaja mengembangkan semua aspek pribadi anak dengan
memberikan bahan pelajaran yang sesuai dan dengan cara penyampaian yang
bervariasi.
B.
Saran
Dengan
melihat perkembangan intektual anak dalam situasi sekarang ini sebenarnya
pribadi anak itu tidak dapat dipecah-pecah dengan beberapa bagian yang
terpisah-pisah. Dalam segala tindakannya manusia itu bersikap sebagai suatu
keseluruhan yang utuh. Oleh sebab itu maka kembangkan lah proses perkembangan
Sosioafektif supaya terbentuk akhlak dan sifat yang berintelektual.
DAFTAR PUSTAKA
Engel, James F. et.al.
1995. Perilaku Konsumen, Binarupa Aksara. Jakarta.
Setiadi, Nugroho. 2003.
Perilaku Konsumen. Jakarta : Kencana.
Winardi.1999. Marketing
dan Perilaku Konsumen. Mandar Madju, Jakarta.









Blognya ada lagunya nih
BalasHapusbalik kesaya juga kak: https://irvanhermawanto.blogspot.co.id/